TIME RUNS FAST.

Showing posts with label Youth. Show all posts
Showing posts with label Youth. Show all posts

Thursday, August 29, 2013

Teruntuknya, yang pernah kecewa.


ah, postingan macam apa lagi ini?
maaf bagi kalian semua, tapi sumpah mati saya tidak bisa tahan lagi dengan semua imaji ini. sulit rasanya untuk didera pikiran terus menerus yang tidak kunjung usai, menenggelamkan kewarasan saya sampai-sampai saya mengira bahwa semua itu benar adanya.
hal yang menyebabkan kegalauan saya kali ini adalah tersadarnya saya akan sifat buruk saya yang selalu menyia-nyiakan setiap kesempatan beserta orang yang ada di sekitar saya.
sifat buruk saya ini terbangun begitu kokoh sehingga saya selalu mempunyai pikiran bahwa semua orang pada akhirnya akan memaafkan saya dan/atau saya akan mendapat kesempatan yang kedua di lain waktu. kenyataannya? tidak selalu semua berjalan semulus itu.

masalahnya, sekarang saya melihat betapa orang itu seperti tidak mau mengenal saya. bagaimana saya ingat kembali hal-hal yang tercetak jelas di sms terakhirnya yang ia kirimkan kepada saya; dia sudah menaruh hatinya, mempercayakan saya, dan dia kecewa karena saya menyia-nyiakannya demi orang lain. bagi saya waktu itu, kata kecewa tidak melambangkan apa-apa, bahkan saya berpikir suatu saat nanti pasti dia bisa memaklumi saya dan memaafkan kenaifan saya.
masalahnya, dia yang sekarang bukanlah dia yang dulu.
masalahnya, dia yang sekarang bukanlah dia yang mau menerima saya lagi di barisan penting hidupnya.
masalahnya, dia yang sekarang sudah mempunyai orang lain yang telah membuatnya bahagia dan tergla-gila.

lagi-lagi saya baru sadar, kata-kata bijak "happiness is the sweetest revenge" adalah benar adanya. mungkin dia tidak bermaksud untuk melakukan apapun, tapi bagi saya—orang yang pernah menolak dia mentah-mentah—hal itu cukup menjadi tamparan untuk menyulap saya sebagai pengagum rahasianya—juga sebagai seseorang yang keberadaannya tidak akan pernah diusik oleh rasa keingintahuannya.
setiap melihat namanya muncul di jejaring sosial manapun, saya selalu membatin, "lo mikir apa sih nyet waktu itu?"

"Wish you could go back and tell yourself what you know now."
- Taylor Swift, Fifteen 

sampai hari ini, tidak sedikit teman baru saya yang menjadi tahu mengenai orang itu. saya selalu menceritakan hidupnya secara singkat dengan bangga, bagaimana saya selalu berkata bahwa saya terlalu bodoh dan naif sampai bisa menyia-nyiakan dia begitu saja.

lihat saya sekarang.
hal yang bisa saya lakukan adalah mencurahkan isi kegundahan pikiran ini dalam bentuk tulisan di blog, menjadikannya rapi sehingga orang bisa membacanya dan bisa belajar dari pengalaman bodoh ini. menceritakan cerita-cerita ini ke satu kuping ke kuping lain agar orang tahu bahwa bagaimana dia mempunyai kedudukan yang begitu istimewa di pandangan saya.
lalu lihat dia sekarang.
sibuk mengejar dan membina hati yang baru saja disinggahinya, berpetualang kesana-kemari sambil mengukir masa depannya--tanpa pernah ingat saya.

saya yang sekarang.. hanya bisa berharap suatu saat nanti dia bisa membaca tulisan ini dan kemudian bisa tersadar, atau tahu dengan sendirinya bahwa dia pernah menjadi salah satu penyesalan terdalam saya.
dan alasan saya trauma mendengar kata kecewa.

Wednesday, April 17, 2013

Komunikasi, bagi saya.

pernahkah kamu terduduk di salah satu bangku dalam sebuah ruangan dan merasa bahwa kamu sebenarnya sedang diajarkan tentang kehidupan? bukan, bukan psikologi. bukan pula antropologi ataupun sosiologi yang masih punya teori yang serta merta dapat dituliskan dengan lantang di secarik kertas. bukan pula ilmu desain dan seni yang dapat digambarkan melalui simbol dan warna-warna. ini Komunikasi.
apa sih susahnya menjelaskan serangkaian cara bagaimana orang berkomunikasi? toh setiap hari kita bertatapan dengan orang dan melakukannya, toh setiap hari kita tidak luput darinya meskipun hanya antar layar, toh kita pasti mengerti apa itu komunikasi.

apa itu? peristiwa interaksi manusia?
iya, benar, tapi di dalamnya terdapat hal yang begitu kompleks sampai saya pun seperti duduk di sebuah mesin waktu. semua teorinya sangat nyelekit sampai-sampai hampir semuanya applicable dalam kehidupan saya. bahkan teman saya ada yang pernah berkata, "belajar komunikasi tuh sekalian ngorbanin perasaan ya, harus bisa banget nahan galau kalau ada pelajaran yang lagi ngena banget."
dan itulah yang saya rasakan, sampai-sampai saya pernah menangis di tengah diputarnya sebuah video yang menggambarkan sebuah teori komunikasi. and thank God, saya menjadi selalu ingat apa maksud dari teori itu.

seperti membicarakan reward dan cost dalam sebuah hubungan, tentang asumsi, tentang persepsi, tentang bagaimana jika private space seseorang kita ganggu, sampai dengan tahapan bagaimana sebuah hubungan dapat terbina dengan baik. bukan, saya bukan pakar romansa atau life guru, yang barusan saya tulis hanyalah sebagian kecil dari topik kuliah saya dalam dua semester terakhir ini. dan sadar atau tidak pelajaran-pelajaran itu seringkali membuat saya lebih aware dan lebih bisa memaknai sesuatu. dan yang terpenting adalah menjadi bisa memprediksi sesuatu dalam kejadian dalam sebuah hubungan, meskipun tidak selalu benar (tapi telah dibuktikan 99,9% akurat).

bagi mereka yang menganggap pelajaran kami sebelah mata, coba pikirkan lagi sejenak. komunikasi bisa dikaitkan dengan semua hal, dari mulai hukum, politik, sampai ke arts sekalipun. maksud dari pembuatan seni seseorang adalah mengekspresikan emosinya, sekaligus menyampaikan pesan ke orang banyak. bukankah tu juga yang dimaksud dengan komunikasi? ketika kita terduduk dalam sebuah ruangan, mendengarkan pidato ataupun cerita seorang idola tentang hidupnya, tentang perjuangannya, dan kita terbawa emosi sampai-sampai kita menitikkan air mata, sadarkah kalian itu adalah efek dari komunikasi? bahwa kita menerima pesan itu dengan sungguh sempurna kita sehingga kita memberikan respons yang memang dimaksudkan oleh sang pengirim pesan saat kali pertama mreka melihat audiensnya. bayangkan ketika semua pemimpin hebat telah mngetahui teknik dan cara yang benar dalam berkomunikasi, tentunya para anggota DPR tidak akan ada yang tertidur dalam rapat, tentunya tidak akan ada delegasi dari negara manapun yang menguap dan memutar matanya setiap 10 menit sekali. bayangkan ketika semua pemimpin bisa membuat perubahan sebesar Churcill lewat pidato singkatnya di radio dan membuat semangat Britania Raya berkobar lagi, sebesar Hitler ketika ia mem-brainwash otak orang Jerman untuk percaya bahwa Yahudi lah sesungguhnya pangkal permasalahan mereka.

Bayangkan.

kita bisa tersihir menjadi satu, mengukuhkan semangat dan mungkin memberantas segala macam masalah dengan berbekal satu genggaman, satu tepukan dipundak kita masing-masing dari harapan yang terkuak lewat segelintir kalimat yang diucapkan Sang Pemimpin.
like what they usually say, it need action rather than just some talks, but everything starts from a usual talk to get into an action, indeed.

And while I'm talking about my major and we're currently holding an event right now, here's a glimpse of how cool our Communications event really is:


Itu adalah salah satu peserta dari salah satu kompetisi Media Matters Pekan Komunikasi 2013 yang sedang diselenggarakan oleh jurusan kami. And you can check our super cool teaser HERE
so, do you dare to be fun yet ethical? :--)

Friday, August 24, 2012

Oh Dear July

Bulan Juli pada awalnya benar-benar terlihat seperti bulan yang sangat saya benci. Mulai dari kegagalan, banyak rintangan dan halangan, sampai ke kejadian tak diduga sekalipun.

Di awal bulan kemarin, tanggal 2 Juli malam ibu saya diopname. Secara tiba-tiba dia didiagnosis menderita batu empedu. Awalnya memang dia sendiri menolak untuk dirawat, tapi ternyata dokter memutuskan untuk melakukan scanning dan penanganan lebih lanjut. Alhasil, kira-kira 2 hari setelah itu empedu ibu saya diangkat karena memang sudah meradang. Alhamdulillah, operasinya berlangsung lancar, ibu saya juga recovery dengan cukup cepat.
Kemudian tibalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua angkatan 2012; Jumat, 6 Juli 2012.
Sebenarnya hari pengumuman SNMPTN itu dipercepat satu hari, yang tadinya tanggal 7, menjadi tanggal 6. Memang lebih cepat lebih baik, tapi jujur, saya benar-benar tidak siap melihat hasilnya waktu itu.
Hari itu adalah hidup mati saya, hari penentu masa depan saya nantinya. Hari itu juga sepertinya Tuhan mau menguji kekebalan mental dan ketebalan urat malu saya, tamu-tamu baik itu sanak saudara maupun teman-teman ibu saya yang kian berkunjung makin malam makin membengkak jumlahnya, sementara hasil baru akan keluar jam 7 malam. Saya hanya bisa pasrah. Secercah harapan memang sudah meruak di dada saya pada hari-hari sebelumnya, karena menurut saya I've done my best and I think I did it, saya benar-benar percaya diri. Tapi ternyata, Allah berkata sebaliknya:


Image and video hosting by TinyPic


Di depan kurang lebih 10 orang yang berdiri di dekat saya, saya hanya bisa menahan air mata. Dalam kurun waktu sekitar 10 menit, saya menahan hasil itu kepada diri saya sendiri dan teman-teman saya, keluarga saya tidak boleh tau. Saya beralasan websitenya crash, padahal sebenarnya saya sudah tahu hasil sesungguhnya apa. Sampai akhirnya tante saya menawarkan diri untuk meminjamkan hpnya kepada saya, dan kebenaran pun terungkap. Sejenak kamar rawat inap itu menjadi hening, membuat dada saya semakin sesak dan akhirnya tidak bisa menahan lagi, saya menangis. Saya gagal. Semua orang mendadak iba dan berulang kali mengucapkan "masih ada jalan lain, jangan putus asa dulu" tapi itu semua rasanya hambar, saya hanya bisa mengangguk perlahan saja. Ditambah lagi dengan kenyataan berarti saya harus menempuh SIMAK UI pada tanggal 8, padahal persiapan saya benar-benar 0. Tapi yang benar-benar membuat saya runtuh malam itu adalah kalimat sindiran dari ayah saya, "Siap nggak kamu nanti tanggal 8? Kalo nggak ada persiapan mah sama aja bohong." Malam itu dukungan dari ayah ibu saya pun tidak ada, justru sebaliknya, mereka bilang usaha saya kurang, belajar saya juga kurang ngotot. Saya muak dengarnya.

Semangat saya benar-benar telah hilang ditelan bumi. Beban malu yang saya pikul sungguh berat, sulit sekali untuk kembali mengangkat wajah dan tersenyum tenang, tapi apa boleh buat? Nasi sudah menjadi bubur. Kegagalan bukanlah sekedar excuse agar kita bisa leyeh-leyeh meminta dunia agar menuruti dan bersimpati kepada kita. Walaupun otak saya 180 derajat mengatakan hal yang berbeda ketika itu, tapi entah kenapa, ada yang membuat hati saya tergerak untuk berjuang sedikit. Persisnya tanggal 7 malam, beberapa jam sebelum SIMAK UI dilaksanakan, saya bangkit dari posisi saya, mencoba melatih mata saya yang kian sembab dan bengkak untuk segera melihat dan menghafal sedikit buku rangkuman IPS yang saya pinjam dari Ryandika. Saya melahap pelajaran-pelajaran tersebut sekitar 2 setengah jam, kemudian saya tertidur. Perlu kalian tahu, saya tidak pernah membaca buku itu sebelumnya, saya bahkan tidak tahu menahu tentang kurva-kurva Ekonomi dan nama patahan atau tahun-tahun terjadinya berbagai kejadian lampau.. But God strengthened me. Saya seperti disentil dan diberitahu bahwa menjadi dokter gigi memang bukanlah sesuatu yang benar-benar ada di dalam hati saya, yang menjadi kemauan saya. Sehingga di ujian IPC tersebut, yang justru saya rasa bisa kerjakan adalah bagian IPSnya. But again, saya tidak mau berharap. Sungguh sakit ketika kita telah merasa bahwa kita bisa namun kenyataan mengatakan yang sebaliknya..


Selain SIMAK, jalur mandiri lain yang saya ikuti adalah SMUP, yakni ujian mandiri dari UnPad yang memakai nilai SNMPTN kita sebagai acuan tanpa mengikuti tes kembali. Pilihan saya kembali bercabang; antara FKG dan FIKom. Walaupun saya merasa lebih optimis mengikuti jalur ini, tapi bukan berarti telah menyembuhkan trauma saya dalam perjuangan hidup dan mati ini. Jujur saja, saya kesal dan iri melihat anak-anak yang sudah mendapatkan sekolah dari jalur-jalur sebelumnya, apalagi menyadari bahwa usaha yang saya lakukan bukanlah sesuatu yang sedikit. Dengan seluruh kesabaran dan perjuangan beserta endless prayers from my beloved ones, akhirnya datanglah sebuah pengumuman:


Photobucket


Itu saya dapatkan ketika pengumuman SMUP kurang lebih sekitar pertengahan Juli. Bersyukur? Sangat. Karena akhirnya saya bisa mendapat satu buah kursi di salah satu PTN terbaik di Indonesia. Tapi sebenarnya, keluarga saya sudah memikirkan rencana lain; rencana memberangkatkan saya ke Belanda demi pendidikan yang jauh lebih baik. Itu adalah rencana yang benar-benar mendadak, persiapan TOEFL beserta IELTS saya pun tak ada, sehingga saya harus menunda sampai intake berikutnya; pemberangkatan baru akan dilaksanakan Februari 2013. Langkah saya dalam mewujudkan hal tersebut sudah sampai kepada tahap datang dan konsultasi kepada representative yang ada di Jakarta dan menyampaikan maksud saya. Tapi sepertinya Tuhan punya maksud lain, Dia kembali menggonta-ganti pikiran saya dengan pilihan-pilihan ini. Kedewasaan saya kembali diuji dengan semua ini, dengan pilihan-pilihan yang tersedia atas keringat dan jerih payah saya juga. Walaupun perlahan seulas senyuman telah kembali terukir di wajah saya, tapi tidak ada yang mengalahkan lompatan saya dari tempat tidur menuju pintu kamar ibu saya ketika ayah saya menyuguhkan sebuah koran ke depan saya, membangunkan saya yang sebenarnya butuh beberapa jam untuk mengobati lingkaran hitam di bawah mata saya.

Image and video hosting by TinyPic

2034700146. Keringat saya, teriakan saya, tangisan saya, mimpi saya.. Semuanya seperti terbayarkan. Dukungan beserta doa dari setiap orang terdekat saya didengar Tuhan, Tuhan tahu apa yang terbaik buat saya, dan inilah jalannya. Ternyata saya diterima di jurusan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Kecewa? Tidak sama sekali. Karena apa yang saya idam-idamkan, yang hati kecil saya katakan memanglah itu.

You see, perjalanan saya bukanlah cerita singkat nan bahagia yang bisa dimiliki sebagian orang yang memang berotak Einstein. Sekalipun saya rasa nilai saya selama SMA bisa menyelamatkan saya, ternyata tidak sama sekali. Saya harus kembali membangun diri saya sendiri, berjuang mengalahkan ribuan orang yang menyerbu bangku yang sama. Inilah hidup. Hidup yang sebenarnya dimulai di sini, dimana setiap orang akan fight dengan segala apapun yang dia punya, demi masa depan yang ia mau. Ukiran hidup dan hiasan akan teras kehidupan kita kelak tentunya akan dipilih berdasarkan selera dan pengalaman kita sendiri juga, terpahat dan dipahat melalui berbagai proses dalam hidup. Keras? Teramat sangat. Hal ini juga saya peruntukkan bagi setiap orang (termasuk saya) yang sedang terus menerus berjuang demi kelanjutan hidupnya. Sekedar cerita bittersweet untuk membangkitkan semangat muda kita agar tak lekas pudar, agar tetap berpegang teguh dan terus mengayuh meskipun hidup menyuruhmu untuk berlutut dan diam tak berkutik.


So, July, you really did give me something. 
Something big yet very small, something that some people won't even notice.
Something that can make people's lives slip when they live inside my shoes.



Friday, June 22, 2012

random (5)




pertama kali denger lagu itu beberapa hari yang lalu, lewat facebook temen. quite interested sama judulnya, jadinya dengerin sampai habis. hasilnya? a smirky face and I downloaded the song. bosen sih ya emang sama post yang isinya cinta-cintaan melulu, tapi dari sini gue jadi mikir akan sesuatu. semua orang gak pernah ada yang bisa tau apa yang bakalan nimpa mereka di hubungan yang mereka jalanin sekarang ini. sedih ya kalo tau relationships yang kita punya sekarang mungkin gak akan last selama apa yang udah kita pikirin. ada emang orang yang berhasil ngelampauin itu semua and I'm a proud witness, but the others?

gue kadang suka kecewa sendiri sama salah satu orang yang dulu pernah deket sama gue waktu SMP, she's younger than me, tapi cara dia ngebawa hubungan dia udah bener-bener serius dan gue cuman bisa geleng-geleng kepala. gue udah coba bilang ke dia, gaperlu sampe segitunya, gaperlu sampe se-all out itu. pusing ya ngebilangin orang yang udah mabok cinta, udah bener-bener buta sama kenyataan dan they just shut the world down. satupun suara nggak akan ada yang didenger kecuali suara pasangannya. sumpah it's never a good way to describe a relationship. mungkin emang, dia ngerasa pacarnya sekarang adalah sesosok orang yang bener-bener dia mau dihidupnya, but wrong. I've seen the way he treated her dan gue muak. dari cerita cewek ini, gue tau banget cowok itu labilnya parah banget. dan gue bingung apa lagi sih yang mesti dipertahanin di hubungan kayak gitu? apa nggak ada yang lebih worth it? ya gue nggak mau nyalahin mereka, karena pikiran mereka mungkin belum sepanjang itu and all they've ever wanted is just a frikkin fairytale. gue juga pernah beberapa kali ada di posisi labil kayak gitu, tapi gue cukup bangga pernah ngelewatin itu semua, experiencing is somewhat priceless to me. mending labil sekarang kan daripada pas udah gede nanti?

I'm not a love guru, perjalanan gue juga masih belom ada apa-apanya. tapi karena gue adalah orang yang selalu dia tuju untuk dimintain nasihatnya, gue pengen ngasih omongan yang sekiranya emang apa ya, ya nampar. nampar supaya bisa bangunin dia. gue sampe muter otak waktu ngasih sepatah dua patah kata ke temen gue itu, pengen supaya dia ngerti sedikit, dan yaa get a grip. tapi hasilnya? beberapa bulan putus kemudian balikan lagi. gue cuma nggak pengen orang-orang sekitar gue sedih cuma karna sesuatu yang dulu bisa bikin mereka angkat dagu, dan sekarang cuman bisa bikin bekas di otak, hati, bahkan fisik mereka. tapi gue tau kok, apa yang mereka semua jalanin sekarang ini, either it's bad or good, pasti adalah sesuatu yang bisa bikin mereka sadar, ngerti, dan dewasa nantinya. itu ajasih hal positif yang bisa gue tarik dari sini. kalo kata orang pembicara retreat gue waktu itu, semakin rompal hati orang, makin gede juga chance dia untuk bisa kuat dan wise. walaupun mungkin maksud dia bukan hanya mengasihi pacar, tapi itu adalah salah satu bentuk kecil kan? hahaha.

kalo ngomongin soal sakit hati dan mau diinget lagi, mungkin gue bisa nangis darah sekarang, tapi gue gak mau. I tend to choose to move forward rather than looking back. bagi gue sekarang, luka ya luka. luka itu bisa sembuh kok. tergantung kitanya aja yang mau ngobatin dengan baik atau engga dan awalnya mau dicuci apa engga. tapi semua rangkaian pengobatan itu gakbakalan lepas dari satu kata; perih. dan prinsip gue sekarang, biar perih asal sembuh. puitis banget ya? hahah yang penting gue bisa napas bebas sekarang. bebas banget sih engga, tapi luka gue udah lumayan sembuh berkat bantuan keluarga, temen, dan semuanya, walaupun belum sepenuhnya healed. kalo lo nggak pernah jatoh dan sakit sekarang, your life is pretty much wasted. dan untuk temen gue yang satu itu, I demand you to get yourself a breakup dan jangan balik-balik lagi. kalo nggak mau, yaa semoga lo dikasih pencerahan deh sama yang diatas. because you won't believe what love can do, till it happens to you. good luck! :-)

Saturday, December 24, 2011

Gonzaga (part 2)

Sore itu, aku tengah berdiri di antara orang-orang bertubuh kekar di antrean penunggu taksi biru di salah satu mall di kawasan Senayan. Entah ada apa yang salah dengan otakku, tapi aku tiba-tiba menjatuhkan sebagian besar kertas-kertas ulangan yang ada di dalam map biruku. Aku baru saja memasuki kelas 11, atau tahun di mana semua orang bilang adalah tahun terbaik dalam SMA. Kertas-kertas itu tercecer di lantai, bahkan ada beberapa yang tertiup angin, untung tanganku cukup tangkas untuk menangkapnya.
Dan perlu kalian ketahui, tidak ada satu orangpun yang membantuku di sini, semua orang hanya memandangku dengan tatapan heran dan penuh kasihan, tapi tidak ada satupun orang yang membantu. Bantuan yang kuterima hanyalah sedikit langkah menjauh dari seorang bapak-bapak di depanku agar dia tidak menginjak kertasku, itu saja. Aku berpikir. Kalau ini terjadi di sekolah, tidak akan terjadi hal seperti ini. Pasti ada orang yang senantiasa membantuku tanpa pamrih, karena itu yang dibiasakan di Gonzaga.

Akan lain ceritanya kalau kertas itu berjatuhan di salah satu sisi di Gonzaga. Kalau ada orang yang melihatku, pasti mereka akan mencoba membantuku, bagaimanapun caranya. Tanpa diminta. Semua seperti keluarga, semua seperti tau bagaimana rasanya jika tidak ada yang membantu, tentu itu akan sakit sekali.

Aku tidak tau bagaimana mereka melakukannya, tapi guru-guru bisa membuat anak-anaknya berpikir untuk membantu satu sama lain. Awalnya aku tidak percaya tentang semua pembicaraan orang tentang bagaimana kita akan berubah pelan-pelan setelah kita masuk Gonz, tapi sekarang aku telah merasakannya. Sungguh signifikan perubahan yang telah Gonzaga buat terhadapku, terutama terhadap perilakuku. Dan perubahan itu tidak hanya aku yang merasakan, tapi kedua orang tuaku yang selalu bersyukur akan fakta bahwa aku masuk ke Gonzaga dan bukan ke sekolah lain.

Aku akan mulai dari yang paling kecil, masalah makanan. Setelah aku ikut berbagai kegiatan dari mulai Jambore sampai Live In yang pasti diikuti oleh anak-anak kelas 11, aku sadar, betapa berharganya makanan yang ada dihadapan kita sehari-hari. Sekolah lain mungkin telah mengadakan berbagai rangkaian acara Live In, yang setauku, nilai kesederhanaan yang harusnya ditanamkan justru lewat begitu saja.
Memang, semua membutuhkan proses. Tapi siapa sangka seorang Jasmine Alifa yang dulunya tidak pernah mau menyentuh sayur atau apapun makanan yang sekiranya tidak terlihat menggiurkan, dapat mengunyah apapun makanan yang tersedia di atas meja?

Dan Gonzaga adalah satu-satunya sekolah yang mau membuatku berjalan tanpa alas kaki dengan cueknya di atas ladang sawah sambil membantu ibu asuhku menyiangi rumput untuk makan ternaknya. Aku pun serta merta jalan berkilo-kilo jauhnya dari rumah orang tua asuhku hanya untuk pergi ke ladang dan main ke sungai. Berpakaian seadanya, selayaknya orang yang ada di sekitar kampung itu juga. Sejak kapan aku mau untuk melakukan semua itu?

Kesadaran. Kesadaran yang seringkali dibuat sebagai alat untuk 'membangunkan' orang dengan kalimat yang khas yaitu "kesadaran aja siiih..." yang tidak lagi terdengar asing di telinga anak-anak Gonzaga. Tapi tanpa sadar, sekalinya kalimat itu keluar dari mulut seseorang yang tak jauh dariku, aku bertanya-tanya apakah itu ditujukan untukku, apakah aku bersikap kurang peka terhadap sesuatu yang harusnya aku sadari sebelumnya.

Bagi kalian, murid-murid Gonzaga lain yang membaca tulisan ini, pikirkanlah lebih jauh. Pikirkan sebelum kalian mengernyitkan dahi dan bertanya kenapa aku bisa terpikir untuk menulis hal ini. Jauh di dalam diri kalian (bagi yang merasa Gonzaga tidak membuat sedikitpun perubahan dalam dirinya) pasti ada sesuatu yang berubah, entah dalam wujud apapun itu. Entah dalam wujud pertemanan sekalipun. Aku menulis kata-kata itu, karena aku telah menemukan sahabat-sahabat yang bersedia untuk membantuku 24/7. Dan bahkan aku menemukan diriku sendiri ingin membantu teman-temanku yang kesulitan, aku tidak ingin salah satu dari mereka merasakan kesusahan, sedikitpun. Aku bisa langsung berseru ke supir taksi untuk membelokkan tujuan ke rumah sahabatku karena aku mendengar dia menangis dan butuh kehadiranku di sampingnya.

Padahal aku seharusnya pulang ke rumah, itu aturan yang telah ibuku bilang pagi sebelumnya, tapi aku meyakinkan ibuku bahwa sahabatku butuh bantuan, dan aku akan segera membantunya. Aku tidak tau apakah eager untuk membantu orang akan terasa seperti ini juga apabila aku tidak berada di Gonzaga. Karena aku yakin 95% dari perasaan itu tumbuh atas didikan para guru, Frater, serta Pater yang ada di sana juga.

Masih banyak perubahan yang sudah terjadi dalam diriku, tapi tidak mungkin aku sebutkan satu persatu di sini, yang kutahu, sekarang aku selalu menyuruh ibuku untuk memasukkan kedua adik laki-lakiku ke Gonz, karena aku tahu mereka bisa 'dibentuk' di sana. Dibentuk kepribadiannya, bukan hanya otak atau network yang bertambah luas. Personally, aku menulis ini karena sebentar lagi aku akan mengucapkan selamat tinggal kepada Gonzaga dan seluruh penghuninya dan melanjutkan perjalanan panjang menuju pelabuhan mimpiku.

Pikirkanlah teman-teman, dan aku yakin, kalian akan merindukan saat-saat dimana ada banyak orang di sekelilingmu yang siap untuk membantumu dan berbuat baik kepadamu. Karena sesungguhnya, sekalinya kalian menapakkan kaki keluar dari Gonzaga dan beranjak ke dunia luar secara permanen, belum tentu ada orang-orang yang bersifat sangat dermawan dan memiliki sifat kekeluargaan sehangat di sekolahmu sekarang ini. Senyumlah dan banggalah kepada sekolah tempat dimana kau berpijak sekarang, karena itulah yang membuatmu berbeda dengan anak-anak lain, deep down inside.

Gonzaga (part 1)

Adakah satu tempat di dalam hidupmu yang paling berkesan untukmu? Satu tempat dimana kamu merasa kamu sangat beruntung untuk menjadi salah satu penghuninya, terlibat dalam sejumlah pertemanan dan persahabatan di dalamnya?

Bagiku, tempat itu adalah Gonzaga, sekolahku sekarang.

Kenapa? Karena aku merasa ini adalah takdir bagiku untuk dapat menginjakkan kaki dan menjadi bagian dalam sejarahnya. Butuh bantuan Tuhan menurutku agar aku dapat mengenal sekolah ini awalnya, karena memang aku baru mengetahui ada sekolah yang bernama Gonzaga beberapa hari sebelum aku menjalani tes di sana.

Pada awalnya, aku tidak bisa menyingkirkan betapa bencinya aku kepada orang tuaku yang menjerumuskan aku ke sekolah yang benar-benar asing bagiku ini. Tidak ada teman satupun untuk sekedar tertawa bersama, atau untuk berbincang masalah seputar barang-barang MOS yang wajib dibawa di hari-hari pertama. Sampai akhirnya Tuhan berbaik hati dan memberiku satu dua teman untuk bercengkrama.
Jujur, aku lebih menginginkan untuk masuk sekolah negeri pada awalnya, hanya karena hampir keseluruhan dari teman-temanku masuk sekolah negeri. I felt like someone who's stepping out from the status quo, and I didn't like it, at all.

Tahun pertama kulalui dengan seadanya. Atau dengan kata lain, benar-benar hancur. Perjuanganku untuk beradaptasi kuanggap cukup berat, dan bisa dibilang cukup berhasil untuk melihat kondisiku yang sekarang. Bergulat dengan gaya belajar di Gonzaga bukanlah sesuatu yang bisa dipandang sebelah mata. Aku, yang dulunya selalu menganggap semuanya sebelah mata, dan yakin akan keajaiban yang datang dari Tuhan meskipun aku tidak belajar, dulu merasakan akibatnya. Patut diacungi sepuluh jempol bagi anak-anak yang berhasil menempuh kelas 10 di Gonzaga bertahtakan cum laude atau suma cum laude. Karena aku sendiri merasakan bagaimana susahnya menajamkan pikiran untuk menjadi dewasa dan dapat melihat bahwa untuk mendapatkan sesuatu, kita harus berusaha, entah sekecil apapun usahamu, pasti akan membuahkan sesuatu. Kelas 10 di Gonz juga diwarnai dengan keterlibatan kita dengan dunia perorganisasian acara-acara Gonzaga. Dan lagi-lagi, kita harus bisa mengatur waktu, dan kuakui, aku gagal mengatur semuanya. Aku ingat aku harus masuk UGD karena penyakitku kambuh dan gagal tampil di acara pembukaan lomba dance waktu itu.

Dan pengalaman yang tidak akan pernah kulupakan sewaktu kelas 10 adalah Jambore XXII. Jambore yang diadakan di Waduk Jatiluhur, yang mewajibkan para pesertanya membawa tas camping yang disebut-sebut sebagai carrier yang beratnya berkilo-kilo. Hiking, rafting, tracking, solo night dan berbagai macam games yang kita laksanakan di sana merupakan anugerah sekaligus cobaan besar bagiku. Berkutat dengan alam tidaklah mudah, kita membutuhkan satu sama lain di lapangan dan kita butuh rasa kepercayaan yang tinggi bahwa teman-teman kita tidak akan mencelakai kita.

Dari tahun pertamaku di sana, aku berjuang untuk bisa naik kelas dengan nilai yang benar-benar buruk, berkutat dengan masalah yang aku alami di masa-masa labil seperti itu dibarengi dengan sekolah yang mewajibkanku untuk bersikap adaptif tidaklah mudah. Seringkali kedua orang tuaku lah yang kusalahkan atas musibah kecil yang menimpaku pada saat itu, aku sampai mengeluarkan kata-kata aku ingin pindah sekolah, atau semua berantakan karena ayah dan ibuku memaksaku masuk sekolah ini. I seriously had no idea of what kinds of things I was going to get from this school.

Seperti yang kalian tau, semua tidak akan terlihat indah pada awalnya, atau semua tidak akan terasa indah selama kita masih memilikinya, you'll see how many things Gonzaga had taught me throughout the years, I wish everyone could enter this school and enjoy a little bit of my experience, my bittersweet experience that everyone should have felt envy of.


to be continued...

Wednesday, September 8, 2010

Adolescene.

HI! it's the last day of Ramadhan, and i'm feeling nothing but weird. i got many odd and irrational dreams lately. i went like "what the hell?!" every time i woke up. turned out to be some of my imaginations i had in mind. but they're like, more complicated and dreamier. people who appeared there... were my friends. and my crushes! lol okay that one's rational.
so, i ditched my civilization homework for going out with my mom last night, and i'm planning to do it today. i've finished the first part, the second part's only about finding an article and do some analysis about it.. it's a piece of cake then. BUT i got one more homework to catch. i have to make an ethic paper. about the actual meaning of teenagers, the actual meaning of this changing era (and its impacts) and the moralities of the young generations.
if i have a chance to choose, i'll give myself a try to do it all alone without any preferences. i'm a teenager. i have my two constant words for us; unstable or labile. for those of you who love to see your tweet feed every once in a while, you must have heard about this word; ABABIL. it stands for ABG Labil.
we're living in our transition eras, people. how could we ever survive without any of your attentions? we definitely need times from our parents. we need serious talks about our futures. we need supports! for those of you adults who don't have time to hear our incredible stories, then shame on you. but sometimes, some of us need a little more attention. for those who don't get much attention, they need an extra help, an extra support. they should have been cared more, but they're just unlucky... and for these friends, there are 2 possible results; the first one they will become extremely successful because they think that they ought to have a better life, or the second one, who will be 'themselves'. by 2 years from now i shall enter the wild world of college. man I'm old! see? we're actually climbing from one post to another, trying to find the best clues to help us move on, to help us get a life and be maturer, to find the elements of life, the real values of this life we're on.  we're the young generations of this world, we're the successors of your unfinished business. we need time. time to think, time to grow up, and time to feel how it is like to have gray hair.